Gilo-gilo Semarang Jajanan Tradisional

Gilo-gilo Semarang Jajanan Tradisional

Gilo-gilo merupakan jajan asli semarang yang sempat populer pada masanya. Arti dari makanan ini berasal dari cara pedagang menawarkan kepada pembeli. Sejarahnya, gilo-gilo ada sejak tahun 60-an, siapa sangka nama gilo-gilo awalnya adalah Terik’an, sego wak atau sego iwak atau dalam bahasa Indonesia adalah nasi ikan. Asal mula gilo – gilo karena bergulirnya waktu dan banyak makanan yang dijual dengan cara menawari jualannya dengan basa jawa iki lho - iki lho terus menurus dan akhirnya disingkat gilo -gilo.

Masyarakat Semarang pasti sudah tidak asing istilah gilo-gilo. Hingga ada suatu ungkapan mengatakan bahwa, “Jangan ngaku Semarang kalau tidak tahu gilo-gilo”. Gilo-gilo adalah sebutan untuk gerobak dorong roda dua yang menjual berbagai macam makanan yang dijual keliling kampung di kawasan Semarang. Mulai dari gorengan sampai buah-buahan ada dalam gerobak ini. Contohnya lumpia, bakwan, martabak sayur, arem-arem, sate keong, semangka, pepaya, melon, nanas, dan minuman yang dibungkus plastik kecil. Bahkan sareh atau darah sapi juga bisa dtemukan di gerobak gilo - gilo.

Ternyata, sebelum berubah menjadi gerobak dorong seperti sekarang, gilo-gilo mengalami metamorphosis bentuk yang beragam. Sebelum berbentuk gerobak dorong seperti saat ini, dagangan gilo-gilo dijajakan secara keliling dengan dipikul. Perubahan dari pikulan ke gerobak dorong dimulai pada tahun 1985, masyarakat mulai mencari cara praktis dan efisien untuk memuat dagangan lebih banyak dan tidak terlalu berat. Harga makanan yang dijual juga tidak mahal. Mulai dari Rp1000,00 sampai yang paling mahal Rp3000,00. Pedagang gilo-gilo sendiri banyak ditemui di penjuru Kota Semarang. Dua puluh tahun yang lalu harga makanannya Rp50,00. Penjual gilo-gilo biasanya berjualan dari pukul 10.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB atau berangkat pukul enam sore dan pulang pukul satu dini hari. Dalam sehari tidak menutup kemungkinan pedagang ini bisa mendapat omset mencapai satu juta rupiah. Tidak hanya tukang ojek dan masyarakat yang melintas, dagangan dari penjual gilo-gilo ini juga dilarisi oleh pegawai kantor dekat mereka mangkal. Para pembeli bisa duduk menikmati jajanan atau dengan berdiri. Gerobak gilo-gilonya mulai laris sekitar pukul 12.00 WIB, saat para pegawai istirahat. Bicara gilo-gilo, Kampung Kulitan, Semarang merupakan kampung cikal bakal berdirinya dagangan ini di Semarang. Kampung yang terletak di Jalan MT. Haryono Semarang ini menelurkan sejarah gilo-gilo, gerobak dagangan khas Semarang.

Dahulu sejak tahun 90-an, setiap malam banyak hiburan di daerah Semarang, tiap minggu terjadwal aneka hiburan yang diselenggarakan berkala seperti wayang, ketoprak, dangdut, layar tancap, dan bioskop. Dengan banyaknya acara-acara seni dan pertunjukkan membuat dagangan gilo-gilo laris manis setiap harinya.

Pada jaman sekarang gilo-gilo sulit masih ada tetapi beberapa pedagang        gilo-gilo dan itu juga tidak keliling seperti dulu tetapi berhenti di tempat tertentu seperti dekat Gereja Materdai atau Jl. Taman Durian.